Apakah mereka memahami apa itu punk?

Terus terang gua ngasih acungan jempol buat teman-teman yang hidup di jalan… Mereka punya kebanggaan, berpenampilan ngepunk, mereka tetap bertahan walau orang-orang sekitar yang melihat menilainya macam-macam. Bagi gua itu sebuah bentuk perlawanan juga. Melawan pikiran-pikiran orang yang sudah dimapankan — yang menganggap negatif karena melihat penampilan orang lain yang beda, menyimpang, diluar kelaziman. Tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai punk dalam prakteknya berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa survive, menjalin kebersamaan, saling peduli satu sama lain dan tetap mengunggulkan rasa dan kebebasan. Hidup di jalanan kan penuh tantangan. Apalagi sesusia mereka, ada yang masih anak-anak, yang orang bilang diluar kewajaran — ketika anak-anak yang lain kan sekolah, pulang ke rumah, bermain, latihan ini dan itu, les piano … Mereka hidup di jalanan mencari uang untuk membantu orangtua. Kadang dikejar dan digaruk trantib. Digertak atau diperas orang yang sok jagoan, macho… Tapi dalam posisi bertahan hidup di jalan, mereka mandiri, sehat, gembira, dan punya rasa humor. Buat gue itu penting, manusiawi banget!
Tapi, di sisi lain Mike prihatin ketika melihat para punker yang hidup di jalan, hanya menjadikan jalanan sebagai tempat nongkrong dan mabuk-mabukan. Mereka mencari uang dengan mengamen tapi hasil jerih payahnya itu hanya untuk membeli obat-obatan (drugs) dan minuman beralkohol. Mereka masih berusia belasan tahun, tiba-tiba memutuskan berhenti sekolah dan lari dari rumah, karena terpengaruh teman-teman nongkrong . Mereka menenggak minuman dan menelan puluhan tablet dextro (tablet obat batuk yang disalahgunakan untuk mabuk). Banyak dari mereka adalah perempuan berusia dini, dan menjadi korban pelecehan seksual.
Bagi mereka, punk sebatas tempat pelarian. Lari dari kesumpekan rumah. Lari dari tekanan hidup. Lari dari tanggungjawab. Lari dari kenyataan! Di kepala mereka, dengan berpenampilan diri seperti punker, mereka bisa bebas dari segala bentuk tekanan hidup, bebas semau-gue, bebas nenggak minuman atau menelan puluhan tablet dextro, bebas mengekspresikan diri sebebas-bebasnya walau masyarakat di sekitarnya terganggu, seperti yang terjadi berikut ini:
Pada suatu siang yang gerah, empat anak-muda (belasan tahun) berjalan oleng di depan squat Marjinal. Mereka sudah beberapa kali mondar-mandir, dan seorang diantaranya berwajah pucat, matanya terpejam, dalam keadaan mabuk berat, sehingga menjadi tontonan warga. Ketika ditanya tujuannya hendak ke mana, mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil meringis.
Anak-anak kampung Setiabudi (berusia belasan tahun) pun mengarak mereka ke pinggir kali. Segala atribut punk yang melekat di tubuh mereka dilemparkan ke kali, sambil diteriaki,”Pecundang! Pecundang! Pecundang!” Setelah itu, mengusir mereka.
Kejadian serupa, akhir-akhir ini banyak terjadi di beberapa tempat di Jakarta. Bahkan ada aksi kriminal, seperti kasus perkosaan yang terjadi di terowongan Casablanca yang dilakukan segerombolan orang yang beratribut punk, yang diceritakan Kodok (personil Bombardir). “Begitu mendengar kejadian itu, gue bareng warga menyisir beberapa tempat yang biasanya jadi tempat nongkrong mereka,” ujar Kodok dengan nada tinggi.
Squat Marjinal juga sering kedatangan para orangtua yang mencari keberadaan putrinya — (seperti Nia dari Citayam). Belum lagi pertanyaan-pertanyaan para ibu tentang putra-putri mereka yang berperilaku “aneh” di mata mereka. “Rambut diwarnai merah, sering diluar rumah, dan malas sekolah, maunya pergi jauh ke Jawa padahal gak megang duit” kata seorang ibu dari Pondok Kopi.
Sampai saat tulisan ini dibuat, masyarakat awam masih memandang Punk sebagai sebuah organisasi yang terpusat. Sehingga wajar saja apabila para orangtua menanyakan segala sesuatu menyangkut putra-putrinya ke squat Marjinal. Pada kenyataannya, punk adalah satuan-satuan kecil komunitas yang menyebar. Di luar itu, adalah massa cair seperti yang dipresentasikan para gerombolan yang beratribut punk di jalanan.
Berbeda dengan gerombolan yang beratribut punk di jalanan yang ngamen untuk mabuk, punk jalanan yang beken juga di sono disebut street punk adalah sebuah gerakan budaya tanding ( counter cilture) yang melawan kemapanan budaya dominan yang dibentuk oleh sistem kekuasaan. Street punk muncul di Inggris pada tahun 1980-an, pada masa rezim Perdana Menteri Margareth Thatcher, dari Partai Konservatif, yang kebijakan ekonominya sangat liberal, memberi peluang kapitalis mengembangkan pasar modal (ekonomi uang) tetapi di sisi lain mengabaikan kelas pekerja, sehingga pengangguran pun merajalela. Ketika pabrik-pabrik menutup lowongan pekerjaan, bahkan memecat banyak karyawannya dengan alasan efesiensi, masyarakat kelas pekerja menggunakan jalanan sebagai tempat mencari nafkah, membuat jejaring-kerja, serta aksi protes yang diselingi karnaval dan musik.
Sebagai sub-kultur Punk terinspirasi oleh karya-karya seni perlawanan. Antara lain, dari novel karya Charles Dickens, yang sebagian besar menceritakan nasib anak-anak (dari panti asuhan) yang dipaksa bekerja sebagai pembersih cerobong asap di pabrik-pabrik yang menggunakan teknologi mesin uap untuk menggenjot produksi pada era Revolusi Industri. Anak-anak itu merasa tersiksa bekerja sehari-semalam, tanpa makanan yang cukup, di tempat-tempat yang kumuh tidak berpenerangan. Mereka akhirnya memberontak, menolak segala bentuk eksploitasi! Mereka lari dari panti-asuhan! Lalu memutuskan hidup secara kolektif. Mereka menggunakan jalanan di London sebagai sumber mencari nafkah dan ilmu-pengetahuan. Dan terbebas dari eksploitasi.
Bagi seorang punk, jalanan adalah kehidupan. Di jalanan mereka bertemu dengan orang-orang, di jalanan mereka saling berbagi pengetahuan, di jalanan mereka berdagang, di jalanan mereka menyuarakan kebenaran melalui nyanyian. Pada 1980-an, terjadi bentrokan hebat antara punker dan hippies, karena perbedaan persepsi tentang kehidupan di jalanan. Bagi hippies, jalanan adalah ruang publik sebagai tempat mereka mengekspresikan kemuakan akan kehidupan yang diwarnai perang dan ancaman nuklir. Di jalanan mereka berdemonstrasi membagi-bagikan bunga, seks bebas (war no, sex yess) dan menenggak obat-obatan (drugs) –mereka ingin lari (escape) dari kehidupan ini. Kebalikannya, punk melihat kehidupan ini sebagai projeksi, tergantung si individu itu untuk melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dari yang tidak ada, doing more with less, menjadi sesuatu yang ada dan berarti. Punk tak pernah lari dan sembunyi ketika dihadapkan pada problematika kehidupan. Hadapi! Tuntaskan!
Melihat fenomena gerombolan yang beratribut punk yang nongkrong, mabuk dan mondar-mandiri di Jakarta akhir-akhir ini, tidak perlu dipertanyakan lagi… Mereka bukan punk! Mereka hanya beratribut punk tetapi jalan hidupnya adalah hippies! Hanya hippies yang lari dari kehidupan, dengan nenggak minuman dan obat-obatan (drugs), mereka lari dari kebebasan (escape from freedom).

Jalanan….Kehidupan atau Pelarian?!

Persoalan anak jalanan di kota-kota besar di negeri ini sudah lama diperbincangkan, mulai dari kampus, kelompok studi, sampai seminar di hotel berbintang lima. Namun, untuk mengurai persoalan ini tidak mudah sebab menyangkut perut banyak orang. Banyak oknum yang memeras anak jalanan.
Pada saat krisis ekonomi, jumlah anak jalanan melonjak 400 persen. Sedangkan Departemen Sosial, tahun 1998 memperkirakan, jumlah anak jalanan mencapai angka 170.000 anak. Anak jalanan, secara umum akan dibilang anak jalanan yang masih tinggal dengan orantuanya atau keluarganya dan anak jalanan yang benar-benar lepas dari keluarganya serta hidup sembarangan di jalanan. Usia mereka 6-15 tahun.
Kehidupan anak muda di jalan adalah satu subkultur. Sebuah subkultur selalu hadir dalam ruang dan waktu tertentu, ia bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja. Kehadirannya akan saling kait mengait dengan peristiwa-peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Untuk memudahkan kita memahami gagasan mengenai subkultur anak muda jalanan, mari mencermati peta antara hubungan anak muda dan orang tua, serta kultur dominan sebagai kerangkanya.
Sekurang-kurangnya, ada dua pihak yang –berkat dukungan modal yang melekat pada dirinya– berupaya mengontrol kehidupan kaum muda, yaitu negara dan industri berskala besar. Di Indonesia, pihak pertama yaitu negara berupaya mengontrol kehidupan anak muda melalui keluarga. Keluarga dijadikan agen oleh negara, sebagai saluran untuk melanggengkan kekuasaan.
Melalui UU No. 10/1992 diambil satu keputusan yang menjadikan keluarga sebagai alat untuk mensukseskan pembangunan. Keluarga tidak hanya dipandang memiliki fungsi reproduktif dan sosial, melainkan juga fungsi ekonomi produktif. Pengambilan keputusan keluarga dijadikan alat untuk mensukseskan pembangunan, pada gilirannya, membawa perubahan pada posisi anak-anak dan kaum muda dalam masyarakat.
Negara memandang anak-anak dan kaum muda sebagai satu aset nasional yang berharga. Karena itu, investasi untuk menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah disiapkan sejak sedini mungkin. Dalam hal tugas orang dewasa adalah melakukan penyiapan-penyiapan agar seorang anak bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Akibatnya ada pemisahan yang jelas antara masa anak-anak dan masa muda dengan masa dewasa. Adalah tugas orang tua untuk memberikan pemenuhan gizi yang dibutuhkan, mengirim ke sekolah sebagai bagian dari penyiapan masa transisi.
Saya Shiraishi (1995) yang banyak mengamati kehidupan keluarga dan masa kanak-kanak dalam masyarakat Indonesia mutakhir mengatakan bahwa implikasi lebih lanjut dari gagasan keluarga modern itu pada akhirnya menempatkan anak-anak sepenuhnya dibawah kontrol orangtua. Orangtua menjadi kuatir bila anaknya tidak mampu melewati masa transisi dengan baik, misalnya putus sekolah, dan akan terlempar menjadi kaum “tuna” (tuna wisma, tuna susila dan tuna lainnya), kaum yang kehidupannya ada di jalanan.
Kekuatiran ini bisa dilihat secara jelas dengan streotipe mengenai kehidupan jalanan sebagai kehidupan “liar”. Bukanlah satu hal yang mengada-ada bila kemudian para. orang tua lebih memilih untuk memperpanjang proteksi anak-anaknya untuk berada di dalam rumah sebab lingkungan di luar rumah dianggap sebagai”liar” dan mengancam masa depan anaknya. Pilihan untuk memperpanjang masa proteksi anak-anak inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang niaga oleh para pengusaha.
Belakangan ini dengan mudah kita bisa melihat berbagai produk atau media untuk membantu penyiapan masa transisi anak-anak. Berbagai media cetak dan elektronika mengeluarkan berbagai produk bagaimana menyiapkan anak secara “baik dan benar” dalam rangka pengembangan sumber daya pembangunan. Para orang tua pada. gilirannya akan lebih mengacu pada berbagai media itu sendiri dibandingkan pada peristiwa sehari-hari yang dialami oleh anaknya.
Cara membesarkan anak yang diimajinasikan oleh negara dan pemilik modal inilah yang kemudian menjadi wacana penguasa (master discourse) untuk anak-anak Indonesia. Ia digunakan sebagai alat untuk menilai kehidupan keseluruhan anak dan kaum muda di Indonesia. Hasilnya seperti yang ditunjukkan Murray (1994) adalah mitos kaum marjinal: yang dari sudut pandang orang luar menggambarkan orang-orang ini sebagai massa marjinal yang melimpah ruah jumlahnya dengan budaya kemiskinan dan sebagai lingkungan liar, kejam dan kotor … sumber pelacuran, kejahatan dan ketidakamanan.
Jalan raya bukanlah sekadar tempat untuk bertahan hidup. Bagi kaum muda tersebut jalanan juga arena untuk menciptakan satu organisasi sosial, akumulasi pengetahuan dan rumusan strategi untuk keberadaaan eksistensinya. Artinya ia juga berupaya melakukan penghindaran atau melawan pengontrolan dari pihak lain.
Sebuah kategori sosial, anak jalanan, bukanlah satu kelompok yang homogen. Sekurang-kurangnya ia bisa dipilah ke dalam dua kelompok yaitu anak yang bekerja di jalan dan anak yang hidup di jalan. Perbedaan diantaranya ditentukan berdasarkan kontak dengan keluarganya. Anak yang bekerja di jalan masih memiliki kontak dengan orang tua, sedangkan anak yang hidup di jalan sudah putus hubungan dengan orang tua.
Soleh Setiawan, seorang anak jalanan yang sudah hampir dua puluh tahun hidup di jalan menuturkan pengalamannya. Katanya, waktu kecil ia banyak ngeluyur di kampung Arab lalu sempat sekolah di Al-Irsyad, sebuah sekolah ibtidaiyah di Pekalongan. Tapi ia lebih senang bermain di jalan dibanding sekolah, lebih banyak bermain dari pada belajar. Sejak kecil dia tidak mengenal orangtua kandungnya. Dia dibesarkan seorang pamannya yang juga lebih banyak hidup di jalan. Seorang dokter yang cukup terpandang di Pekalongan mengadopsinya. Tetapi Soleh kecil selalu tidak merasa betah tinggal di rumah itu walau segala kebutuhannya dicukupi oleh orangtua angkatnya. Dia lebih sering bermain di luar rumah, sehingga orangtua angkatnya murka. Soleh pun minggat dari rumah. Dengan menumpang kereta api barang, ia pergi ke beberapa kota di Jawa, lalu ikut kapal penangkap ikan dengan rute pelayaran Kalimantan – Bali. Ia bekerja sebagai koki kapal selama 3 bulan.
Ketika pertama kali hadir di jalan, seorang anak menjadi anonim. Ia tidak mengenal dan dikenal oleh siapapun. Selain itu juga ada perasan kuatir bila orang lain mengetahui siapa dirinya. Tidaklah mengherankan bila strategi yang kemudian digunakan adalah dengan menganti nama. Hal ini dilakukan untuk menjaga jarak dengan masa lalunya sekaligus masuk dalam masa kekiniannya. Anak-anak mulai memasuki dunia jalanan dengan nama barunya. Ketika hidup di jalanan, Soleh dipanggil Gombloh karena sering nggambleh, bergelantungan di mobil atau kereta api, pergi ke mana pun tanpa tujuan. Biasanya anak-anak yang berasal dari daerah pedesaan menggganti dengan nama-nama yang dianggap sebagai nama “modern” yang diambil dari bintang rock atau yang yang biasa didengarnya misalnya dengan nama John, Jimi, Tomi dan semacamnya.
Proses penggantian sebutan itu dengan sendirinya menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pergantian panggilan saja tetapi juga sebagai sarana menanggalkan masa lalunya. Artinya ia adalah bagian dari proses untuk memasuki satu dunia (tafsir) baru. Sebuah kehidupan yang merupakan konstruksi dari pengalaman sehari-hari di jalan.

Crass


Crass dibentuk pada tahun 1977, di sekitar lingkungan Dial House, sebuah ‘komunitas terbuka’ dekat Epping, kota Essex, di Inggris. Dengan adanya lagu-lagu dari Sex Pistols, anarkisme menjadi candaan tentang kesadaran diri yang nihilis, namun Crass berdiri untuk berhubungan langsung dengan kaum pembebasan sosialis dan menjadi sebuah variasi komunal pemikiran politik pada abad ke-20.
Dengan membawa manifesto dari punk, "Do It Yourself", Crass menyatukan kegunaan dari lagu-lagu, film, suara-suara kolase, gambar-gambar dan pergerakan subversi untuk menghadirkan kritikan yang inovatif dan berkelanjutan melawan semua yang mereka pandang sebagai sebuah budaya yang dibangun dengan landasan dari peperangan, kekerasan, sexisme, kemunafikan agama dan konsumerisme yang berlebihan. Mereka juga melawan bersama para orang-orang anarko-pasifis yang mana menjadi sebuah gerakan yang besar di lingkungan musik punk.<span class="fullpost">

Awal mula Crass

Band tersebut terbentuk saat pendiri dari Dial House dan mantan anggota grup EXIT, sebuah grup performance art avant-garde, Penny Rimbaud (nama asli Jerry Ratter), mulai bermain musik bersama seorang penggemar Clash, Steve Ignorant, yang tinggal di Dial House. Berdua mereka merekam lagu So What? dan Do They Owe Us A Living? yang mereka sebut duet drums dan vokal. Untuk masa yang sangat singkat mereka menyebut dirinya Stormtrooper, sebelum memilih nama Crass, yang mana diambil dari lagu David Bowie, ‘Ziggy Stardust’ (khususnya lirik yang menyebutkan ‘The kids was just crass’). Anggota-anggota lain dari rumah tersebut mulai mengikutsertakan dirinya sendiri dalam band itu, dan hal itu berlangsung cukup lama sebelum Crass bermain di pertunjukkan pertamanya sebagai pengisi acara ‘Squatted Street Festival’ di Huntley Street, London Utara. Tak lama setelah itu mereka mulai bermain di klub punk legendaris, Roxy di area Covent Garden, London. Dengan uang dari band sendiri, membuat mereka sebuah bencana dari para pemabuk, dan berakhir dengan penolakan dari penampilan di panggung tersebut, yang diabadikan dalam lagu mereka ‘Banned from the Roxy’ dan essay Rimbaud ‘Crass at the Roxy’. Pertunjukkan-pertunjukkan awal mereka lainnya termasuk pertunjukkan reguler dengan the UK Subs di White Lion pub di Putney. Pertunjukkan-pertunjukkan tersebut ditonton oleh sedikit orang; "Penonton biasanya hanya kami ketika the Subs bermain, dan hanya the Subs ketika kami bermain.", kata Penny Rimbaud.
Tak lama setelah itu, band tersebut memutuskan untuk bermain lebih serius, memberi pandangan lebih pada penampilan mereka. Dengan menghindari obat-obatan, alkohol dan juga ganja sebelum penampilan mereka di panggung, mereka juga mengadaptasi pikiran politis dari penggunaan baju berwarna hitam, gaya pakaian yang lebih cenderung kepada militer, diatas panggung ataupun dikehidupan sehari-hari. Mereka juga memperkenalkan pemakaian dari backdrop panggung, sebuah logo yang digambar oleh teman Rimbaud, Dave King (yang membentuk Sleeping Dogs Lie), seperti yang diperlihatkan di belakang cover album The Feeding Of The 5000. Hal ini membuat band tersebut terkenal dengan gaya militernya, yang mana membuat beberapa orang menuduh mereka sebagai sebuah band fasis. Crass menyebutkan bahwa penampilan seragam hitam mereka adalah maksud dari pernyataan mereka atas perlawanan akan "pemujaan personalitas", dengan itu, agar berlawanan dengan kebanyakan band rock lain, tak ada satu anggotapun yang disebut sebagai pemimpin dari band tersebut.
Logo band yang ditampilkan di belakang panggung merepresentasikan sebuah percampuran dari beberapa ikon-ikon kekuasaan, termasuk salib agama kristen, swastika dan bendera Union Inggris yang disatukan dengan gambar ular berkepala dua yang memakan dirinya sendiri (untuk menggambarkan bahwa semua kekuasaan akhirnya akan hancur dengan sendirinya). Penulisan pesan-pesan politis juga salah satu dari strategi Crass untuk menyampaikan pandangan mereka sebagai "serangan kata-kata yang kontradiktif", juga penggunaan musik yang keras dan agresif untuk menyampaikan pesan-pesan pasifisme mereka, karya-karya seni yang mengacu kepada Dadaisme menurut mereka sendiri juga mengambil bagian dan pula performance art sebagai latar belakang panggung.
Band tersebut juga menggunakan lampu-lampu panggung untuk memperkuat penampilan mereka, mereka tidak menggunakan lampu panggung yang simpel (hanya satu warna). Crass juga merupakan pionir dalam penggunaan alat-alat multi media di panggung, dengan menggunakan sistem teknologi video dan menggunakan film-film sebagai latar belakang panggung juga kolase-kolase video yang dibuat oleh Mick Duffield dan Gee Vaucher untuk membantu memaksimalkan penampilan mereka di atas panggung.

Crass Records
Rilisan pertama dari Crass adalah The Feeding Of The 5000, sebuah EP 12 inci 45 rpm berisi 18 track dari the Small Wonder label pada tahun 1978. Para pekerja perusahaan itu awalnya menolak mengerjakan album tersebut karena adanya isi lirik yang sangat kontradiktif di lagu ‘Reality Asylum’. Album tersebut akhirnya dikeluarkan dengan dihilangkannya lagu tersebut dan diganti dengan kesunyian selama 2 menit, dan ironisnya lagu pengganti itu diberi judul ‘The Sound Of Free Speech’. Kejadian ini membuat Crass membuat label rekaman sendiri, Crass Records, dengan tujuan untuk menghadirkan album itu sepenuhnya, dan ‘Reality Asylum’ setelah itu akhirnya dikeluarkan pada sebuah single 7 inci yang direkam kembali. Cetakan album ‘The Feeding of The 5000’ oleh Crass Records menampilkan lagu yang sebelumnya tidak dimasukkan.
Seperti materi album mereka sendiri, Crass Records mengeluarkan album-album lainnya yang dikerjakan oleh para artist lain, album yang pertama dikeluarkan adalah single ‘You Can Be You’ oleh Honey Bane pada tahun 1980, seorang gadis muda yang tinggal di Dial House setelah kabur dari panti asuhan disana. Artis-artis lainnya termasuk Zounds, Flux Of Pink Indians, Rudimentary Peni, Conflict, band dari Icelandic KUKL (yang memasukkan suara dari Björk), penyanyi klasik Jane Gregory, dan the Poison Girls, sebuah band yang mempunyai pemikiran yang sama seperti Crass dan telah bekerja sama dalam segala hal selama bertahun-tahun dengan Crass.
Mereka juga mengeluarkan ketiga edisi dari ‘Bullshit Detector’, kompilasi dari demo-demo dan hasil rekaman yang pernah dikirimkan oleh band-band disana, dan mereka rasa kompilasi tersebut merupakan etos kerja DIY punk yang sesungguhnya.
Nomer-nomer yang tertera pada semua rilisan Crass records ditampilkan dengan maksud untuk menghitung mundur ke tahun 1984 (seperti, 521984 yang berarti "lima tahun lagi menuju 1984"), Crass menyatakan bahwa pada tahun tersebut mereka akan membubarkan diri, mengambil dari tanggal di novel George Orwell yang mereka percayai sebagai tanggal kemenangan dari pergerakan anti penguasa.
Crass mengeluarkan album ke-tiga mereka, ‘Penis Envy’, pada tahun 1981. Album ini menandakan awal kehadiran dari apa yang disebut testosterone-driven 'hardcore punk' imej bentukan dari ‘Feeding of the 5000’ dan pengembangan dari ‘Stations of the Crass’ yang telah memberikan pengakuan dunia atas keeksistensian mereka. Album ini menampilkan aransemen musik yang lebih rumit dan suara perempuan yang dihadirkan oleh Eve Libertine dan Joy De Vivre, (walaupun Steve Ignorant menjadi anggota tetap dari grup tersebut dan juga dituliskan pada cover album ini, namun dia tidak mengikuti sesi rekaman Crass untuk album ini).
Crass juga melontarkan isu-isu feminisme dan sekali lagi menyerang semua institusi pemerintah seperti perkawinan dan penindasan sexual. Di salah satu lagu, sebuah lagu parodi dari 'MOR' lagu cinta yang diberi judul ‘Our Wedding’, diberikan secara gratis pada flexi disc dalam majalah romantis gadis muda, setelah majalah itu ditawari untuk menyebarkan lagu tersebut oleh sebuah organisasi yang menamakan dirinya "Creative Recording And Sound Services" (lihat inisialnya). Kontroversi pada tabloid itu membuat pergerakan mereka semakin terdengar, juga ditambah dengan adanya pemberitaan pada News of the World yang menyatakan terlalu jauh bahwa judul lagu tersebut terlalu fulgar untuk diedarkan.
Album LP keempat dari Crass adalah double set album yang berjudul ‘Christ the Album’ pada tahun 1982, mengambil lebih dari satu tahun untuk proses perekamannya, produksi dan mixing, selama pada masa itu Perang Falklands terjadi dan berakhir. Hal ini membuat Crass mempertanyakan pendekatan dasarnya dalam membuat rekaman-rekaman tersebut. Sebagai grup musik yang mempunyai komitmen untuk mengangkat isu-isu politik, mereka merasa bahwa mereka telah membawa pesan dan penampilan mereka yang berlebihan terbentuk oleh adanya kejadian-kejadian nyata di dunia ini. Rilisan album itu di dalamnya termasuk lagu ‘How does it Feel to Be the Mother of A Thousand Dead’ dan ‘Sheep Farming in the Falklands’, dan pada album ‘Yes Sir, I Will’, mereka membawa kembali suara mereka ke dasarnya dan membawa pesan sebagai "respon taktis" untuk situasi politik pada saat itu.
Pada hari-hari awal mereka membuat grafiti stensilan disekitar wilayah London Underground, band tersebut juga terlibat dalam aksi langsung, begitu juga aktivitas musikal mereka. Pada tahun 1983 dan 1984 mereka melibatkan diri sebagai bagian dari aksi Stop the City yang mana melibatkan para pelari di awal abad ke-21 sebagai protes anti-globalisasi. Dukungan nyata mereka akan kegiatan yang seperti itu ditampilkan pada lirik lagu terakhir mereka yang berjudul ‘You're Already Dead’, yang juga memperlihatkan bahwa Crass telah meninggalkan komitmen lama mereka sebagai pasifis. Hal ini membawa band tersebut pada introspeksi yang lebih jauh akan pendirian awal mereka, dan beberapa anggota grup ini merasa bahwa mereka mulai kehilangan pandangan akan esensi pendirian murni yang selama ini mereka jalankan. Sebagai hasil dari perdebatan tersebut, rilisan berikutnya dengan menggunakan nama Crass adalah album ‘Acts of Love’, sebuah album berisi 50 puisi oleh Penny Rimbaud dengan latar belakang musik klasik, yang juga bisa digambarkan sebagai "lagu-lagu untuk diriku yang lain" dan bertujuan untuk merayakan "kebutuhan akan hasrat kebersamaan, kedamaian dan cinta yang akan ada dengan adanya diri yang lain."
Kejadian yang lebih lanjut akibat pasca perang Falklands adalah para anggota dari Crass membuat kehadiran mereka lebih diperhatikan, dengan adanya aktivitas agen KGB dari Administrasi Ronald Reagan. Dengan adanya rekaman yang dikenal sebagai 'the Thatchergate tapes', sebuah kaset yang menampilkan percakapan yang dipalsukan dengan menggunakan sampel suara dari Margaret Thatcher dan Ronald Reagans, yang membicarakan rencana mereka bahwa Eropa akan digunakan sebagai target sasaran senjata nuklir apabila terjadi konflik antara Amerika dan Uni Soviet. Rekaman tersebut menyebar dikalangan publik banyak, walaupun tak ada label Crass didalamnya, entah bagaimana koran British Observer bisa menghubungkan rekaman suara tersebut dengan Crass.

Bubarnya crass
Crass akhirnya berhenti tampil di depan orang banyak setelah akhirnya menjadi ancaman serius bagi pemerintahan Margaret Thatcher setelah terjadinya Perang Falklands. Crass dipanggil menghadap Parlemen dan menghadiri pengadilan mereka akan Aksi Publikasi yang Vulgar dalam hukum Inggris, hal ini membuat mereka bertarung dimeja hijau dan berakhir dengan apa yang mereka sebut aksi kekerasan akhirnya mendapatkan apa yang seharusnya diterima. Pada 7 Juli 1984 Crass memainkan pertunjukkan terakhirnya di Aberdare, Wales, sebuah acara benefit untuk para penambang disana yang sedang mogok kerja, sebelum kembali ke Dial House untuk menyimpan energi mereka bagi perlawanan berikutnya dimana saja.
Andy Palmer yang bermain gitar memutuskan untuk keluar dari band agar bisa meneruskan studinya di kuliah seni, dan konsensus dari grup tersebut adalah “menggantikan posisi Andy Palmer sama saja dengan menerima mayat sebagai anggota band berikutnya”. Hal ini memperkuat keputusan mereka untuk membubarkan diri pada tahun 1984. Steve Ignorant lalu bergabung dengan band Conflict, yang mana dia selama ini telah menjadi adisional basis band itu, dan pada tahun 1992 dia membentuk grup Schwartzeneggar. Dari tahun 1997 sampai 2000, dia telah menjadi anggota grup Stratford Mercenaries. Dia juga bekerja di 'Punch and Judy' sebagai performer. Eve Libertine meneruskan merekam lagu dengan putranya sendiri, Nemo Jones, juga sebagai artis performer di grup A-Soma. Pete Wright mengkonsentrasikan dirinya dalam pembuatan rumah perahunya dan membentuk grup artis performer, Judas 2, dan Rimbaud meneruskan untuk menulis dan tampil solo ataupun dengan artis lain.


Pengaruh-pengaruh crass
Pengaruh filosofi dan estetika seni dari Crass pada hampir seluruh band punk di tahun 1980-an tak bisa lagi disangkal, walaupun beberapa band menirukan jenis musik mereka pada saat-saat terakhir (seperti pada album ‘Yes Sir, I Will’ dan rekaman terakhir mereka, ‘10 Notes on a Summer's Day’). Crass mengatakan bahwa pengaruh musik yang mereka ambil cenderung lebih ke bentuk musik rock tradisional, begitu juga dengan musik klasik (khususnya musik dari Benjamin Britten, yang mana Rimbaud nyatakan, beberapa riff dari lagu-lagu Crass meniru musik dia seluruhnya), karya-karya seni Dada dan avant-garde seperti buatan John Cage juga performance art tradisional. Lukisan dan kolase-kolase hitam putih pada cover album mereka oleh Gee Vaucher menjadi model dalam estetika seni modern.
Pada bulan November tahun 2002 beberapa mantan anggota Crass berkolaborasi dibawah nama The Crass Collective untuk mengatur aksi Your Country Needs You, sebuah konser musik yang mengangkat "suara-suara yang bertentangan dengan perang" yang diadakan di Queen Elizabeth Hall, South Bank, kota London, termasuk penampilan dari performer Britten's War Requiem. Pada bulan Oktober 2003, The Crass Collective merubah nama kegiatan mereka menjadi Crass Agenda, dan mereka meneruskan penampilan mereka secara rutin. Selama tahun 2004 Crass Agenda mengkampanyekan untuk menyelamatkan Klub Jazz, Vortex di Stoke Newington, London Utara, yang mana sekarang telah di relokasikan menjadi Hackney. Pada bulan Juni 2005, Crass Agenda dinyatakan bubar, dan merubah namanya ke bunyi yang lebih pantas, Last Amendment.

Anggota-anggota Crass

Hardcore punk

Hardcore punk (kadang-kadang disebut Hardcore saja) merupakan salah satu subgenre dari punk rock yang berasal dari Amerika Utara dan UK diakhir tahun 1970-an. Sound baru ini yang merupakan ciri khas musiknya secara umum yaitu: suara gitar yang lebih tebal, berat dan cepat dari musik punk rock awal.[1] Tipikal lagu biasanya sangat pendek, cepat dan keras, selalu membawakan lagu tentang politik, kebebasan berpendapat, kekerasan, pengasingan diri dari sosial, straight edge, perang dan tentang sub-kultur hardcore itu sendiri

Hardcore punk Indonesia
Musik Hardcore sudah eksis di Indonesia pada tahun akhir 1980-an. Dengan fenomena yang ada menyebabkan sebagian dari punker mulai melahirkan scene-scene hardcore punk. Sehingga musik hardcore di Indonesia sangat kental dengan warna punk.
Dikarenakan masih sangat sedikitnya scene hardcore maka scene terbagi menjadi dua kaum, yaitu kaum individu yang lebih suka menikmati musik hardcore dengan sosialisasi yang secukupnya dan kaum yang sangat suka bersosialisasi (membaur dengan komunitas punk). Hal ini terjadi sampai sekitar pertengahan tahun 1990-an. Tahun 90-an bisa dibilang tahun musik hardcore di Indonesia dan puncaknya pada akhir tahun 1990 ditandai dengan mulainya pertunjukan-pertunjukan di berbagai tempat menampilkan 100% band hardcore (yang sebelumnya selalu mencampur dengan band punk) dan kemudian musik hardcore mulai membaur dengan melodicore.
Dengan semakin banyaknya band hardcore bersamaan pula munculnya records D.I.Y yang menyalurkan kreatifitas band seperti pinball records dan ffgrecords. Di Indonesia kota Jakarta adalah kota yang memiliki banyak band hardcore, untuk di kota lain umumnya hardcore dibawa dan berkembang dari individu anak Jakarta yang kuliah di luar kota ataupun bekerja. Band Hardcore Jakarta antara lain adalah Anti Septic, Triple X, Straight Answer, Dirty Edge, Popcorn, Sugesti X, Secret Agent. Depok juga memiliki DC crew,biduan error: Thinking Straight dan juga band-band Depok lainnya yang mayoritas mengusung oldschool hardcore punk serta di daerah Menteng Jakarta Pusat yang dikenal dengan Taman Suropati banyak band-band pengusung hardcore punk seperti Speed Kill, Sing It, The Borstal, Snacky, Majesty, Naughty Sex Party, Headline dan masih banyak lagi.
Setelah era oldschool, hardcore amerika, hardcore oldscholl eropa ke newschool maka dimulailah hardcore yang didominasi dengan musik lebih kental musik metalnya seperti Jumbo Jet bahkan emo, hingga saat ini (tahun 2000-an).

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Hardcore punk
Sumber aliran Punk rock
Sumber kebudayaan Akhir 1970-an, United States, United Kingdom
Alat musik yang biasa digunakan Vokal - Gitar - Bass - Drum
Popularitas arus utama Low to mid depending on subgenre
Bentuk turunan Alternative rock - Grunge - Post-hardcore
Subgenre
Christian hardcore - D-beat - Emo - Grindcore - Melodic hardcore - Nardcore - Powerviolence - Skate punk - Thrashcore - Youth crew
Genre campuran (fusion)
Crossover thrash - Crust punk - Digital Hardcore - Funkcore - Punk jazz - Horror punk - Metalcore - Rapcore - Skacore - Sludge metal - Thrash metal
Topik lainnya
Hardcore dancing - Straight edge - Street punk - DIY punk ethic - List of hardcore bands - List of hardcore genres

Skinhead


Skinhead adalah suatu sub-budaya yang lahir di London, Inggris pada akhir tahun 1960-an. Sekarang Skinhead sudah menyebar ke seluruh belahan bumi. Nama Skinhead merujuk kepada para pengikut budaya ini yang rambutnya dipangkas botak. Sebelum bermulanya era Skinhead, ada golongan remaja yang dipanggil Mods yang menjadi pemula kepada skinheads.
Meskipun Skinhead banyak diasosiasikan dengan kelompok orang-orang yang rasis dan Neo-Nazi, namun Skinhead yang sebenarnya tidaklah Neo-Nazi, karena pada awalnya Skinhead adalah kaum tertindas dari kelas pekerja (utamanya buruh pelabuhan) di London, Inggris. Skinhead juga bisa merujuk kepada kepada kelompok orang (biasanya remaja) yang merupakan fans musik Oi!/streetpunk dan juga punk.

Sejarah

Skinhead merupakan subkultur yang bermula di Inggris pada era ‘60-an, ketika Mods sedang mengharubiru kaum muda Inggris. Mods yang pada awalnya didominasi kaum muda yang berasal dari kalangan menengah ke atas kemudian mewabah dan menyentuh setiap kalangan. Tidak terkecuali kalangan pekerja alias working class. Para pemuda dari kalangan tersebut meskipun harus bekerja keras tiap hari, sebagian malah sebagai buruh kasar atau buruh pelabuhan, namun tetap memiliki cita rasa tinggi dalam memilih life style tertentu. Mereka berusaha mengadaptasi life style yang berkembang dengan pola hidup, selera serta kemampuan dompet.
Maka pada sekitar tahun 1965, dalam dunia Mods dikenal pula istilah Smooth Mods (Peacock Mods) yang terdiri dari kalangan menengah stylish dengan pilihan kostum yang mahal serta Hard Mods (lemonheads, gang mods) yang terdiri dari kaum pekerja dan merupakan cikal bakal dari Skinheads.
Hard mods kemudian baru dikenal sebagai kaum Skinheads sekitar tahun 1968. Generasi pelopor Skinheads tersebut biasanya disebut Trads (Traditional Skinheads) atau Trojan Skinheads, sesuai dengan nama label Trojan Records.

Pakaian

Kaum Trads ini mudah dikenali dari setelan seperti shirt button-up Ben Sherman, polo Fred Perry, Bretel/suspender, celana jeans semi ketat, monkey boots, jaket jeans, jaket Harrington, V neck Sweater dls. Serta yang terpenting adalah potongan rambut yang pendek, berbeda dengan gaya rambut mods pada umumnya. Pilihan akan jenis rambut yang pendek ini lebih disebabkan alasan kepraktisan. Terutama karena sebagian besar lapangan pekerjaan yang tersedia tidak membolehkan pekerja berambut gondrong apalagi bergaya acak tidak beraturan. Selain itu, potongan rambut pendek dianggap sebagai keuntungan sewaktu harus menghadapi kehidupan jalanan yang keras ketika itu. Ada pula yang berpendapat bahwa pilihan berambut pendek merupakan counter terhadap life style kaum hippie yang dianggap mewah dan juga sedang berkembang pada masa tersebut. Lebih jauh lagi, suatu kisah menceritakan bahwa pilihan tersebut berasal dari kaum pekerja pelabuhan, seperti di kota Liverpool, yang memotong pendek rambut mereka untuk menghindari kutu yang banyak terdapat di sekitar pelabuhan.

Musik

Karena Skinhead sendiri pada dasarnya adalah suatu subkultur bukannya sebuah genre atau aliran musik, pilihan musiknya pun bisa beragam.
Yang pertama tentunya adalah roots mereka yang berasal dari Mods, para Trads pun pada awalnya sangat terpengaruh musik R&B ala Inggris seperti The Who, The Kinks, dan lain sebagainya. Namun, mereka juga terinspirasi oleh style ala Jamaican Rude Boy yang juga populer di Inggris pada zaman itu. Rude Boy atau Rudy merupakan sebutan untuk para imigran Jamaika yang berkulit hitam pencinta dansa dan musik asal mereka.
Hasilnya, para Trads pun sangat menggemari musik Ska, Reggae, Rocksteady, Soul, dan lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang seorang Skinhead pun ikut menikmati alunan dari seorang penyanyi soul seperti Aretha Franklin misalnya.
Dari roots tersebut dapat ditelusuri bahwa pada dasarnya Skinhead sama sekali tidak identik dengan rasis. Sebagaimana pendapat awam pada umumnya. Karena mereka pun menikmati kultur dari masyarakat kulit hitam. Bahkan, banyak juga Skinhead yang berkulit hitam dan berwarna kulit lainnya.

Rasisme

Mereka mendapat cap rasis pertama kali ketika beberapa Skinhead terlibat clash beberapa kali dengan imigran Pakistan dan imigran dari Asia Selatan (mereka menyebutnya Paki-Bashing) di Inggris pada era ’60-an. Tindak kekerasan (yang tidak bisa dibenarkan biar bagaimanapun) tersebut dipicu oleh masalah pekerjaan. Para Skinhead yang merupakan kaum pekerja merasa lahan pekerjaan mereka semakin sempit. Mereka terdesak oleh kedatangan imigran yang bersedia dibayar lebih rendah. Label rasis kemudian semakin melekat, salah satunya setelah beberapa Skinhead tergabung dan dihubungkan dalam organisasi white power, National Front yang terbentuk di awal ’70-an. Militansi dan karakter Skinhead yang keras khas kaum pekerja sempat membuat mereka dijadikan alat maupun berbagai kepentingan politik. Termasuk dihubungkan dengan paham Neo Nazi. Meskipun sejarah maupun kenyataan yang ada bisa menunjukkan fakta yang berbeda.
Sama dengan nasib Mods leluhurnya, pamor Skinhead sempat meredup di era ’70-an, setelah sebelumnya mencapai puncak popularitas mereka pada tahun 1969.
Mereka kemudian bangkit kembali, bersamaan dengan kelahiran musik punk pada sekitar tahun 1977

Total Tayangan Halaman

Pratinjau

Copyright © 2012 ARTIKEL PUNKTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.